UPAYA AHLI WARIS DALAM MENCAIRKAN TABUNGAN PEWARIS DI BANK

 

UPAYA AHLI WARIS DALAM MENCAIRKAN TABUNGAN PEWARIS DI BANK

Oleh

Advokat

 

Pertanyaan:

A adalah seorang nasabah di Bank X, A menyimpan uang sebesar 1 Milyar Rupiah di Bank X, satu tahun kemudian A meninggal dunia. Upaya apa yang perlu dilakukan ahli waris agar mendapatkan tabungan orang tuanya tersebut?

Pembahasan:

Setiap Bank pasti akan menjaga dengan hati-hati simpanan semua nasabah penyimpannya, karena itu adalah prinsip utama yang harus ditegakkan semua Bank. Meskipun kemudian diketahui ada nasabah penyimpan yang meninggal dunia, Bank tidak akan serta merta menyerahkan simpanan nasabah penyimpannya yang meninggal dunia tersebut kepada siapa pun yang datang memohon pencairan.

Bank akan meminta kepada siapa saja yang memohon pencairan simpanan nasabah penyimpan yang meninggal dunia untuk dapat melengkapi persyaratan yang sudah ditetapkan oleh Bank. Mengenai hal itu, setiap Bank masing-masing punya persyaratan yang berbeda-beda.

Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, sudah mengatur tentang status kepemilikan rekening nasabah penyimpan yang meninggal dunia. Dijelaskan pada Pasal 44A ayat (2), bahwa “Dalam hal Nasabah Penyimpan telah meninggal dunia, ahli waris yang sah dari Nasabah Penyimpan yang bersangkutan berhak memperoleh keterangan mengenai simpanan Nasabah Penyimpan tersebut.

Hal tersebut juga kemudian ditegaskan dalam Pasal 2 Peraturan Bank Indonesia Nomor: 2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah Atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.

Namun untuk dapat memperoleh haknya sebagaimana diatur dalam undang-undang dan peraturan tersebut di atas, ahli waris biasanya akan diminta oleh Bank untuk dapat setidaknya menunjukkan surat keterangan ahli waris yang disahkan oleh pejabat kelurahan dan kecamatan terlebih dahulu.

Setelah itu, bilamana ahli waris meminta pencairan simpanan Nasabah Penyimpan, Bank akan meminta persyaratan lainnya yang harus dilengkapi oleh ahli waris. Biasanya, persyaratan yang diminta oleh Bank adalah Fotocopy KTP semua ahli waris yang masih hidup, kartu keluarga, surat kematian Nasabah Penyimpan, dan surat kuasa yang menunjuk satu ahli waris sebagai penerima kuasa yang nantinya menjadi penerima langsung pencairan simpanan Nasabah Penyimpan.

Setelah semua persyaratan dilengkapi oleh ahli waris, maka Bank selanjutnya harus melakukan penutupan rekening Nasabah Penyimpan terlebih dahulu. Lalu ahli waris akan diminta menunggu konfirmasi dari Bank, mengenai kapan pencairan simpanan baru dapat diterima. Bank biasanya memerlukan waktu yang berbeda-beda dalam melakukan proses pencairan simpanan Nasabah Penyimpan, karena Bank harus sangat hati-hati dalam menentukan kepada siapa simpanan yang diproses diberikan.

Namun apabila Bank menolak memenuhi permintaan ahli waris, padahal ahli waris telah memenuhi semua persyaratan yang dibutuhkan Bank, maka ancaman pidana dan denda akan dapat menjerat pihak Bank yang bersangkutan. Sebagaimana dijelaskan dalam pasal 47A Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,  bahwa “Anggota Dewan Komisaris, Direksi, atau pegawai bank yang dengan sengaja tidak memberikan keterangan yang wajib dipenuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42A dan Pasal 44a, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp4.000.000.000.00 (empat miliar rupiah) dan paling banyak Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah).

 

Dasar Hukum:

  1. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
  2. Peraturan Bank Indonesia Nomor: 2/19/PBI/2000 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Perintah Atau Izin Tertulis Membuka Rahasia Bank.
Muharram Syahri Siregar

Muharram Syahri Siregar

Advokat